Setiap petunjuk Allah SWT, tak terkecuali perintah berpuasa, pasti membawa kemaslahatan bagi segenap hamba-Nya. Kesepakatan ulama antar generasi ini cukup mendasari inisiatif menggali makna puasa. Seberapa dalam akumulasi makna puasa, agaknya terbentur pada keterbatasan faktor watak ubudiyah puasa dan berhubung kerakteristik keibadatannya menurut sisi pandang Allah SWT.
Jatidiri puasa sebagai ibadah berakibat pelekatan sifat tauqifi padanya. Bentuk dan tata-laksana ibadah puasa diatur secara ketat melalui wahyu (Al-Qur’an dan asl-Sunnah) dan karenanya tidak harus rasionable (ma’qul al-ma’na).
Pertanyaan seputar mengapa, bagaimana, dan seandainya bentuk atau tata laksana berpuasa diatur lain adalah tidak relevan.Begitulah jatidiri ibadah pada umumnya. Keterbatasan akumulasi makna disebabkan oleh target maslahat puasa bagi pelakunya berdimensi maslahat ukhrawi yang tidak empirik dan upaya mendiskripsikannya perlu menunggu kiamat tiba.
Makna hakiki ibadah puasa agaknya didominir oleh otoritas ilmu Allah SWT. hal itu seperti diisyaratkan oleh Hadits Qudsi riwayat Abu Huroiroh r.a.
قال الله تعالى كل عمل ابن أدم له إلا الصيام فإنه لي و أنا أجزي به (متفق عليه عن أبي هريرة)
Puasa selaku amal anak cucu Adam a.s. berpotensi sarat misteri, karenanya penialain atas kadar mutu, nilai imbalan pahala dan seberapa mantap interaksi qurban hati nurani si palaku puasa dengan Tuhannya, sepenuhnya menjadi monopoli Allah SWT.
Struktur amaliah puasa sebagai ibadah nyaris tanpa formula wujud nyata perbuatan, hanya sebatas pengalaman qalbiyah dan pantang dideteksi gejalanya. Layak bila Imam al-Ghazali meletakkan presikat “amal qalbiyah atau kegiatan yang bersifat kalbu bukan dhahir/transparan” untuk puasa (Ihya Ulumuddin).
Sekalipun demikian karakteristik obyek “puasa” terdapat sejumlah indikator untuk mengidentifikasi nilai positifnya. Indikator dimaksud antara lain;
Pertama, Ibadah puasa dibakukan oleh Allah SWT. dalam syari’at agama-Nya (kama kutiba ‘ala al-ladzina min qablikum), bukan sebagai bentuk ritual yang diberlakukan khusus bagi umat Muhammad Saw. saja. Di luar agama samawi, terdapat ajaran filsafat phitagorian, agama Hindu, Tao, dan Budha mentradisikan puasa. Motif mengamalkannya berkisar antara upaya meraih kembali kesempurnaan primordial manusia, persiapan upacara keagamaan sampai dengan media instropeksi atas dosa pelanggaran norma agama. Dalam tradisi kanoragan, puasa diarahkan untuk memperoleh kekuatan magis dan pada puasa tirakatan dimaksudkan untuk merengkuh tingat moralitas tertentu.
Kedua, Pantang makan, minum, atau senggama sejak terbit fajar (shodiq) hingga terbenam matahari cukup melambangkan penghentian paksa atas rutinitas mengisi kebutuhan jasmani manusia guna memberi peluang pemenuhan hajat ruhaniah.
Ketiga, Saat mengawali dan mengakhiri ibadah puasa (Ramadhan) berlaku kolektif utnuk segenap orang mukmin di seluruh dunia yang melibatkan segenap strata sosial (kaya/miskin). Universalitas dan kolektifitas pelaksanaan ibadah puasa korelatif sekali dengan peletakan azaz kemanusiaan dan pada ujungnya menjadi media untuk mendinamiskan kehidupan kolektif.
Puasa dengan keragaman status hukum, fardhu (Ramadhan), wajib (nadzar dan kafarat), dan tathawwu’ termasuk dalam kerangka “ibadah”. Predikat ibadah untuk puasa bila dipegangi terminologi Ibnu Taimiyah cukup memberi jaminan bahwa perbuatan itu disukai dan diridloi oleh Allah SWT. standar keibadatannya terletak pada komposisi ketundukan hamba secara tak terbatas dan pengakuan atas keagungan Allah SWT.
Ketundukan hamba adalah pencerminan kecintaan batin, kerendahan hati sekaligus peleburan diri. Pengakuan terhadap keagungan Allah mewakili ekspresi rasa keterbatasan hamba, rasa dikuasai oleh-Nya dan ikrar atas ke-Maha Mutlakan-Nya. Mahabbah dan ta’dhim merupakan pilar ibadah.
Renungan lain menyimpulkakan bahwa orang yang berpuasa setidaknya dalam kesadarannya terjelma keyakinan bahwa dalam diri pribadinya terdapat unsur rohani yang kebutuhan pemeliharaan eksistensinya berbeda dengan unsur jasmani. Pada saat yang sama terukir pengakuan bahwa di balik kehidupan yang fana in menunggu kehidupan hakiki yang abadi. Demikain Abbas al-Aqqad.
KH. Hasjim Abbas, M.HI. (Ponpes Tebu Ireng Jombang)
